Kalau kau merasa jenuh dengan pekerjaanmu atau gundah dengan masalahmu, berhemti sejenak dari kesibukanmu dan pergi menenangkan pikiran. Bisa dengan tertawa bersama sahabat-sahabatmu, nonton film kesukannmu, pergi makan makanan kesukaanmu atau apapun yang bisa membuatmu senang (menurutku).
Tetapi ketika kau sudah dalam keadaan senang dan kau lupa dengan masalahmu, harus kau tahu bahwa kau justeru akan mendapat masalah. Dan jika kau sudah mendapat masalah dari kesenanganmu, maka kau akan sadar bahwa satu-satunya cara menenangkan pikiran adalah dengan bersyukur karena “masih ada” yang mau memperingatimu untuk tidak bertindak labih jauh lagi…….
wel, 06 Januari 2008, kami baru saja keluar dari mall sehabis menonton film Madagaskar. Namun sebelumnya kami sempat makan dulu di salah satu restoran cepat saji di mall. Memang, semenjak beberapa minggu terakhir ini aku sibuk dengan pekerjaan kantor yang tak kunjung selesai. rasanya ingin berhenti saja dari kesibukan dan meraih kembali kebebasan, bangun pagi, pergi kantor samapai malam. besoknya bangun lagi dan sampai malam di kantor, begitu terus berulang-ulang sampai tak pernah ada waktu untuk istirahat atau sekedar refreshing sedikit. baru pada malam ini aku bisa sedikit bersenag-senang.
Terus terang kami memang cukup kocak, sambil makan, tertawa terbahak – bahak mengolok-olok sesuatu atau menceritakan kejadian-kejadian lucu di kantor. Kami juga sempat menjadikan rekan kantor (yang malam itu tak sempat ikut) sebagai bahan tertawaan kami (padahal mungkin saja dia dalam keadaan berduka). tertawa kami cukup lantang dan tidak menghiraukan sekitar kita. Karena malam itu memang pertama kalinya aku bisa tertawa terbahak-bahak lagi. cukup kelewatan memang, apalgi pada saat tertawa, semua kepenatan langsung hilang bak tersapu angin. orang-orang mungkin agak sedikit terganggu.
Kamipun selesai dengan makan bersama itu. rasanya tak ingin berakhir. sambil berjalan keluar dari mall, memang kami masih sempat tertawa terbahak-bahak lagi. semua mulai hening ketika satu-persatu dari kami mulai berceceran menuju ke kendaraan masing-masing. akupun menuju motorku yang terparkir tak jauh dari tempat kami berpisah. tetapi ada sedikit masalah, kunci motorku tidak ada!!!!
Aku mulai panik dan berfikir jangan-jangan aku meninggalkannya di bioskop atau pada saat makan tadi. mungkin karena terlalu asyik berceloteh aku sampai lupa di mana aku menyimpannya. Teman-teman yang lain sudah jauh dari parkiran dan aku sendirian. aku semakin panik dan sudah mulai putus asah. kalaupun harus mencari, harus mencari dari mana? mall itu besar.. dan aku sendiripun tak akan menemukannya. aku menelepon salah seorang temanku dan menanyakan kunciku. walaupun aku yakin 100% dia tidak akan mengetahui di mana kunci motorku. tetapi maksudku menelepon sebenarnya hanya ingin memberitahu padanya bahwa aku dalam masalah. ia menyarankanku untuk menyimpan motorku untuk sementara waktu dan akan mengurusnya besok karean tidak mungkin malam ini untuk mencari kunci yang tececer. aku tahu pada akhirnya harus seperti itu, tetapi aku bingung dengan bagaimana kalau seandainya di kemudian hari ada masalah lagi. misalnya motorku hilang, atau ada yang menemukan kuncinya dan membawanya. ahhhh….. seperti kehilangan pegangan.
Alhamdulillah dalam keputusasahan, seseorang datang padaku sambil memegang sapu lidi dengan rompi yang memandakan bahwa ia adalah petugas kebersihan di parkiran mall. ia menanyakanku “apa yang sedang kau cari?” aku bilang saja aku mencari kunci motorku. ia mengeluarkan dari saku celananya sebuah kunci motor yang tak lain adalah kunci motorku yang ternyata aku lupa saat memarkirnya. betapa rasa lega menghampiriku. aku serasa menemukan kembali semangatku. orang itu harus kuberikan sesuatu sebagai wujud terima kasihku. tetapi ia malah lebih dulu meminta padaku untuk memberinya sedikit uang. rasa geli menghampiriku melihat ulahnya, tetapi aku tidak mau takabbur dan berprasangka buruk pada orang itu. Bagaimanapun juga ia telah membantuku untuk menemukan kembali kunciku. dan uang yang aku keluarkan itu, kurasa itulah nilai dari sebuah kelegaan kecil. orang itupun pergi setelah kuberi uang yang aku sendiri tak sempat menghitungnya…
Astagfirullah….. itulah bentuk teguran padaku. aku selama ini merasa bahwa kejenuhan menghampiriku akibat pekerjaanku dan bukan karena salahku. aku selalu menyalahkan sesuatu dan berhak untuk merebut kembali kebebasanku dengan tertawa terbahak-bahak atau bertindak berlebihan. ternyata aku salah, aku memang berhak untuk bebas, tetapi tidak sebebas-bebasnya… tidak perlu bertindak berlebihan untuk membuat pikiranku tenang, bahkan dengan duduk sambil berzikirpun aku sudah tenang dan tak perlu ke mall, atau nonton, atau makan, atau tertawa, atau mengolok-olok atau sebagainya…
Semoga kejadian ini membuatku sadar (amin…..). Mungkin selama ini aku kurang bersyukur sehingga apapun pekerjaan yang kuhadapi terasa menjenuhkan, mungkin juga selama ini aku kurang beramal dan terlalu royal… seharusnya aku sudah sadar dari kemarin-kemarin….
Setiap kejadia pasti ada hikmahnya, dan semoga aku termasuk orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian….
Ya Allah…… kau masih mau mengingatkanku…. bagaimana seandainya motorku rusak, atau bahkan hilang? dan entah berapa harga yang harus aku bayar untuk itu? mungkin uang yang aku keluarkan untuk orang tadi, memang bukan hakku…
Astagfirullah…..!!!!

