Tanggal 6 juli 2011 lalu, saya dan beberapa teman SMA (yusran aka minno, ridwan aka dona, dan linda aka simon perez) melancong ke Lombok. Diawali dengan kenekatan dan pengelaman yang sangat minim tentang daerah ini, kamipun membulatkan tekad untuk menjelajahi Lombok. Perjalanan kami mulai dari Bali kemudian menempuh perjalanan darat selama + 1 jam menggunakan mobil carteran dari Denpasar. Tujuan pertama kami adalah Padang Bai. Padang Bai adalah salah satu pelabuhan penyebrangan yang ada di Bali. Pelabuhan ini merupakan gerbang penghubung pulau Bali dengan pulau Lombok.
Sesampainya di Padang Bai, kamipun membeli tiket ferry untuk menyebrang ke Lombok. Jangan khawatir untuk ketinggalan ferry, karena setiap jammnya selalu ada ferry yang merapat di pelabuhan ini selama 24 jam nonstop. Perjalanan menggunakan ferry memakan waktu + 5 jam menuju Pelabuhan Lembar di Lombok. Sebenarnya, ada beberapa sarana yang bisa dipilih untuk menyeberang ke pulau Lombok melalu Padang Bai. Bisa menggunakan ferry, bisa pula menggunakan kapal cepat / speed boat. Speed boat biasanya digunakan para turis untuk mengantar mereka langsung ke spot-spot wisata di pulau Lombok.
Sesaimpainya di Lembar, kami melanjutkan perjalanan darat sekitar + 2 jam menuju ke Pelabuhan (lupa nama pelabuhannya) Tujuan pertama kami di Pulau Lombok adalah mengunjungi Pulau Gili Terawangan. Untuk ke Gili Terawangan, bisa melalui pelabuhan ini dengan menggunakan kapal tradisional. Penyeberangan ke Gili Terawangan memakan waktu sekitar + 30 menit.
GILI TERAWANGAN “Kampung Bule”

salah satu spot untuk menyaksikan sunrise di Gili Terawangan
Yeah, saya menyebut pulau ini sebagai “Kampung Bule”. Bagaiaman tidak, lebih dari separuh penduduk pulau ini adalah para turis dari berbagai Negara. Pulau Gili Terawangan tidaklah begitu besar. Anda bisa memutari pulau ini dengan menggunakan sepeda dengan waktu tidak lebih dari 1 jam. Walaupun sangat kecil, tetapi pulau ini juga dihuni oleh penduduk pribumi. Pesisir pantainya dipenuhi dengan deretan kafe, restaurant, hotel, resort, art shop dan Bar yang ditata begitu apik. Di antara deretan bangunan tersebut terdapat jalan setapak selebar + 2 meter untuk para pejalan kaki. Transportasi utama di pulau ini adalah bendi dan sepeda. Pulau ini juga merupakan tempat yang pas untuk menyaksikan sunrise dan sunset. Untuk merasakan euphoria dari pulau ini sebaiknya di malam hari, karena pada malam harilah semua penghuni pulau ini keluar untuk berpesta.
Agenda pertama kami di Gili Terawangan adalah snorkeling. Dengan membeli paket snorkeling kamipun diajak merasakan indahnya taman laut di pulau ini.

salah satu spot di gili terawangan bersama racuners

salah satu spot di gili terawangan

minno bersama cidomo *kembarannya

salah satu spot di gili terawangan

salah satu spot di gili terawangan

salah satu spot di gili terawangan untuk diving

salahs atu spot untuk menyaksikan sunrise di gili terawangan

salah satu spot di gili terawangan

pesisir pantai di gili terawangan

salah satu spot di gili terawangan

salah satu spot di gili terawangan

salah satu spot di gili terawangan

sunset di salah satu spot di gili terawangan

sunset di salah satu spot di gili terawangan
PANTAI SENGGIGI “saksikan berbagai event bahari di sini”

salah satu spot di pantai senggigi bersama model kita, linda simon peres.. wakakakaka
Selain Gili Terawangan, kita diajak pula mengitari pulau Gili Menok untuk menyaksikan keanekaragaman biota laut di sana. Setalah itu, menyaksikan kawanan penyu (namun sayang, saya tidak melihat seekor penyupun saat snorkeling di sana). Setelah puas bersnorkeling, kamipun merapat ke Pulau Gili Air. Pulau Gili Air tidak sebesar Gili Terawangan. Pulau ini dipenuhi dengan restaurant & kafe. Kami mampir ke pulau ini untuk makan siang dan setelah itu, kamipun kembali ke Gili terawangan untuk mempersiapkan diri menantikan sunset di sana.
Setelah menikmati malam yang begitu memukau di Gili Terawangan, kamipun bergegas meninggalkan pulau Gili Terawangan ini untuk kembali ke Lombok mengunjungi destinasi berikutnya. Yeah, Pantai Senggigi. Selama perjalanan menuju Pantai Senggigi saya terpukau dengan pemandangan pesisir pantai Lombok. Begitu indah, sesekali kita melewati tebing dengan pemandangan laut yang biru dan masih asri. Pantai Senggigi tak kalah menariknya dengan Gili Terawangan. Di sini terdapat beberapa hotel berbintang dengan pemandangan mengarah ke Pantai Senggigi. Di Pantai ini juga sering diadakan event-event bahari. salah satunya pelepasan puluhan tukik (bayi penyu) dan lomba renang jarak jauh “10.000 meter gaya bebas” GILA!!! Sunset di pantai ini juga tak kalah menariknya, hanya saja saat kami berada di sana, tidak sempat menyaksikan sunset. Hiks..

salah satu spot di senggigi beach

salah satu spot pantai senggigi

salah satu spot di pantai senggigi
SADE VILLAGE “komplek perumahan tradisional”

salah satu suku sasak di sade village yang sedang menenun songket
Selain wisata pantai, kami juga diajak menikmati wisata budaya yang ada di Lombok. Salah satunya dengan menunjugi Desa Sade. Desa yang mejadi salah satu cagar budaya ini berpenghuni tak kurang dari 100an kepala keluarga. Di sinilah kita masih bisa menyaksian suku asli pulau Lombok. Suku Sasak. Bangunan di desa ini sangat unik. Setiap ruangan yang ada di dalam rumah memiliki fungsi dan arti masing-masing. Hal menarik dari rumah-rumah yang ada di Desa Sade adalah, tanahnya terbuat dari campuran kotoran kerbau dan tanah liat namun begitu kokoh. Profesi utama dari penduduk di desa ini adalah bertani dan menenun. Hasil tenaunannyapun sangat cantik dengan beraneka ragam warna. Warna kain tenunan mereka berasal dari ekstrak tumbuhan jadi sangat ramah lingkungan.

berfoto bersama

salah satu sisi / koplek di desa sade

interior rumah suku sasak

sade village
KAIN SONGKET “wanita tak boleh nikah sebelum pintar menenun”

foto bersama salah satu pengrajin songket
Selain desa Sade, kami juga mengunjungi pusat kerajinan tenun kain Songket (lupa nama desanya). Di tempat ini kita bisa menemukan para wanita menenun kain songket dengan menggunakan mesin tenun tradisional. Konn katanya, para wanita belum diperbolehkan menikah jika belum mahir menenun. Selain itu, jika sedang “datang bulan”, wanita dilarang menenun. Untuk menyelesaikan satu kain songket diperlukan waktu sampai sebulan lamanya tergantung seberapa rumit motif yang digunakan. Motif terumit yang pernah ditenun adalah motif Naga / Ular. Menurut kepercayaan penduduk setempat, untuk menenun Motif Naga / Ular biasanya sipenenun mendapat wangsing berupa mimpi didatangi seekor ular. Sipenenun akan sakit selama beberapa hari dan setelah itu barulah menenun. Percaya atau tidak, yang jelas hasil tenunan mereka sangat indah.

berfoto bersama salah satu pengrajin songket sambil belajar membuat songket

berfoto menggunakan pakaian adat lombok

kain songket hasil tenunan

berfoto menggunakan busana adat dengan latar rumah adat suku sasak
KUTA LOMBOK “saya tidak pernah menyaksikan ini sebelumnya”

salahs atu spot di kuta lombok bersama linda simn peres.. wakakakaka
Jika saya disuruh memilih antara pantai Kuta di Bali dengan Kuta Lombok, maka saya akan memilih Kuta Lombok sebagai pilihan utama Saya. Saya tidak bisa berkata-kata begitu melihat Pantai Kuta Lombok ini. Begitu sangat super indah. Pasirnya putih dengan butir-butir pasir yang khas (sebesar biji merica) warga sekitar biasa menjajakan pasir Kuta Lombok ini sebagai oleh-oleh. Selain itu, pantai ini juga dipercantik dengan tebing-tebing batu yang indah. Dikejauhan kita juga bisa menyaksikan bukit yang menyerupai kura-kura. Pokoknya, pantainya sangat indah. Jauh lebih indah dari pantai manapun yang pernah saya lihat.

berfoto dengan latar bukit

pulau kura-kura di kejauhan

salah satu spot di kuta lombok

salah satu spot di kuta lombok dengan pasir putihnya yang khas

berfoto dengan latar pulau kura-kura
MUTIARA “salah satu yang terbaik”
Nahhh… bagi pecinta perhiasan, Lombok bisa dijadikan sebagai salah satu tempat untuk mendapatkan mutiara dengan kualitas terbaik. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi sentra penjualan mutiara terbaik. Ada yang seharga ratusan ribu sampai puluha juta Rupiah. Sayang duit saya tidak cukup. Hehe…
Perjalan kami di Lombokpun ditutup dengan bersantai di alun-alun kota sembari menikmati jagung bakar. Ahh… nikmatnya. Itulah beberapa pengalaman saya selama mengunjungi Lombok. Bagi anda yang menginginkan wisata yang berbeda, silahkan datang ke Lombok dan merasakan perbedaanya.

hoaaaaaaaammm... cappek