Arsip untuk November, 2011

h1

Mencoba Memahami Orang Lain

November 16, 2011

Mungkin bagi anda yang pernah menonton film Spiderman 3 akan ingat dengan adegan dimana Spiderman berduel dengan Sandman. Saat itu Piter Parker ingin membalas dendam kepada Flint Marko karena telah membunuh pamannya (di Spiderman 1). Saat pertempuran sengit berlangsung, Flint Marko akhirnya menceritakan kejadian sebenarnya di hari ketika ia terpaksa menembak Ben Parker paman Piter. Saat itu, Flint Marko hanya meminta Ben untuk turun dari mobilnya karna ia sedang dikejar oleh polisi lantaran baru saja merampok sebuah bank. Flint Marko menjelaskan kepada Ben bahwa ia terpaksa merampok bank karena ingin membiayai pengobatan putrinya. Ben Parker menasihati Flint agar ia segera pulang dan menemui putrinya yang sedang sakit itu, namun tanpa disengaja tiba-tiba rekan sesama perampok Flint Marko muncul dari belakang dan mendorongnya sehingga refleks Flint menarik pelatuk pistolnya (yang masih terhunus ke Ben Parker) dan menembak Ben Parker. Ia tidak sengaja melakukan hal itu karena terkejut, karena panik, akhirnya Flint Marko kabur bersama temannya dan meninggalkan Ben yang sedang sekarat. Mendengar penjelasan dari Flint tesebut, Piter Parker menjadi dilema. Dendam akan kematian pamannya masih belum hilang begitu saja. Dia akhirnya tau bahwa itu adalah sebuah kecelakaan, namun ia masih belum bisa memaafkan Flint sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas kematian paman yang paling ia sayangi itu.

“Aku tidak beharap kau memaafkanku, tetapi aku hanya mengharapkan kau mengerti” kurang lebih seperti itulah kalimat yang diucapkan Flint Marko kepada Piter Parker. Mendengar ucapan tesebut, akhirnya Piterpun melepaskan Flint dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pertempuran. Rasa dendamnya yang menggebu-gebu perlahan-lahan mulai hilang. Inilah adegan yang paling saya ingat dan saya suka dari film Spidermen 3.

Saya tertarik dengan ucapan Flint kepada Piter yang membuat hati Piter akhirnya luluh juga. Yup, memang benar, menurut saya hal terpenting di dunia ini bukanlah sekedar memaafkan kesalahan orang lain kepada kita, melaikan bagaimana kita bisa memahami mengapa orang tersebut melakukan hal yang melukai hati kita. Ada kalanya kita berada di posisi paling benar saat orang lain menyakiti kita, namun jika kita lebih jeli dan lebih mau memahami mengapa orang tersebut melakukan hal tersebut, mungkin kita akan lebih bisa memaklumi bahwa iapun sedang dalam posisi yang tidak seberuntung kita (ada sesuatu hal yang harus ia perjuangkan). Contoh kasusnya seperti pada posisi Flint Marko yang saat itu sedang bingung karena putrinya sedang sakit. Kita mungkin agak sulit memaafkan kelakukan orang lain apalagi jika itu benar-benar menyakiti kita, tetapi ketika kita sulit untuk memaafkan, mari kita coba memahami. Jika kita telah paham, dengan sendirinya kita akan lebih mudah memafkan dan mengikhlaskan. Untuk memahami, sebaiknya kita mengenyampingkan siapa yang benar atau siapa yang salah. Mari melihat duduk persoalan dari sisi yang berbeda maka kita akan menemukan banyak alasan. Mungkin saja seseorang mencuri dompet kita karena dia harus membiayai pengobatan anaknya, atau bisa saja seseorang tanpa sengaja menyerempet kendaraan kita karena dia sedang terburu-buru untuk urusan kantor yang sangat penting, atau bisa saja seseorang tepaksa mengeluarkan kata-kata yang kurang enak kepada kita lantaran ia sedang punya banyak masalah. Namun, jika orang tersebut memiliki itikad baik untuk meminta maaf kepada kita, tidak ada salahnya jika kita memberikan maaf. Dengan begitu,  kita setidaknya bisa membantu mengurangi beban fikiriannya.

Memang, tidak semua hal bisa dimaafkan dengan mudah, namun bukan berarti itu menjadi alasan kita untuk tidak memberikan maaf. Ketika kita tidak punya cukup alasan untuk memberikan maaf kepada seseorang, cobalah untuk memahami posisinya, mungkin itu sudah cukup baginya.

Di dunia ini ada lebih dari lima milyar orang dengan pribadi dan watak yang berbeda. Kesemuanya bermuara pada satu tujuan, yaitu kehidupan yang lebih baik. Namun, terkadang mereka terpaksa harus merugikan orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik tersebut. Bisa saja itu terjadi pada anda, pada saya, pada dia, pada kita semua.

Kita adalah penilai terhadap diri kita sendiri dan orang lain.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.