
27 sampai dengan 29 Januari 2012 lalu, saya dan beberapa teman yang menamakan diri sebagai Geng Gempar (singkatan dari gemar pariwisata) melakukan perjalanan yang menurut kami cukup “extreme” dalam sejarah pertemana kami bahkan Dona salah satu teman saya rela membelanjakan uang proposal kuliahnya untuk melancong ke Kuala Lumpur, Malaysia. Tetapi, bukan ini yang akan saya kisahkan di ketikan saya kali ini. Saya akan menceritakan pengalamam saya selama berada dan untuk pertama kalinya berada di luar negeri.

Gank Gempar
Perjalanan kami mulai dengan mengguanakn pesawat super murah Air Asia dari Makasar. Saat itu, rute Air Asia dari Makassar baru satu rute yaitu Kuala Lumpur. Setelah menempuh penerbangan kurang lebih 3 jam 15 menit, kamipun tiba di LCCT (Lower Cost Carrier Terminal) atau lebih tepatnya bandara khusus untuk maskapai Air Asia. Saya cukup terpukau dengan LCCT, bandara ini tidak ada bedanya dengan bandara di kota besar lainnya yang ada di Indonesia pada umumnya. Kompleks bandara ini cukup besar, mungkin 3 kali lebih besar dari bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. Jangan berharap kita akan dimanjakan dengan fasilitas belalai atau transportasi begitu turun dari pesawat, karena kita harus menempuh perjalanan dari pesawat ke terminal kedatangan dengan berjalan kaki hampir sejauh 1 km. Tetapi itu tidaklah menjadi masalah. Sesampainya di terminal kedatangan kita harus ke counter imigrasi terlebih dahulu. Jangan khawatir, di LCCT disediakan banyak counter imigrasi sehingga kita tidak perlu berlama-lama mengantri. Proses di imigrasinyapun cukup singkat (menurut apa yang saya rasakan). Selepas dari imigrasi kita langsung menuju ke luar. Di bandara LCCT bisa kita jumpai banyak perusahaan yang menawarkan fasilitas seperti booking hotel, paket travel atau hanya sekedar transportasi dari bandara ke kota-kota di Kuala Lumpur. Saat itu kami menggunakan fasilitas bus dengan harga 8 Ringit Malaysia per orang untuk mengantar kami dari bandara ke Chinatown di daerah petaling. Dari sinilah mataku benar-benar menyaksikan Malaysia secara langsung.

LCCT dengan latar Air Asia

Salah satu spot di LCCT
China Town Petaling Street, Pasar kaget yang benar-benar membuat kaget.
Penghentian pertama kami adalah China Town di daerah Petaling Street. Ide pemilihan tempat ini sebanrnya berasl dari salah satu teman saya, Linda. Sebenarnya daerah yang menjadi tujuan para pelancong ke Kuala Lumpur adalah di daerah Bukit Bintang. Namun menurut Linda, pemilihan China Town ini karena di daerah ini terdapat pasar kaget yang menjual berbagai pernak pernik khas Malaysia dengan harga yang cukup murah. Namanya saja pasar, jadi kita bosa dengan leluasa melakukan tawar menawar di sini. China Town yang kami datangi saat itu penuh sesak dengam kios-kios pedagang, mulai dari pedagang baju, sepatu, tas, sovenir dan makanan. China Town di Petaling Street sebenarnya merupakan sebuah gang yang pada siang harinya dapat dilalui kendaraan. Namun, jalan ini tertutup untuk kendaraan mulai dari pukul 6 sore sampai dengan 12 malam. Selepas pukul 12 malam, jalan ini kembali dapat dilalui oleh kendaraan dan kios-kios yang tadinya memenuhi jalanan seolah-olah lenyap. Yang menarik adalah, setelah seluruh kios kembali dirapihkan, petugas kebersihan mulai melakukan pembersihan sampah yang berserak di jalan ini saat itu juga sehingga pada pagi hari jalanan sudah bersih dari serakan sampah. Sangat berbeda dengan pasar-pasar yang ada di Indonesia. Aktifitas ini terjadi setiap harinya. Pada pagi hari pukul 6 pagi sampai dengan pukul 12 sore pedagang boleh menjajakan dagangannya di halaman ruko / bagunan / trotoar yang ada di sepanjang jalan di Chinatown, barulah pada pukul 6 sore badan jalan bisa digunakan untuk menjajakan dagangan sampai pukul 12 malam. Apabila anda berkunjung ke tempat ini pada malam hari, anda tidak akan menyangka kalau daerah tempan menjajakan daganang ini tadinya adalah jalan yang cukup ramai di siang harinya. Kami menginap di salah satu inn yang ada di daerah China Town ini, namanya adalah Excel Inn dengan tarif sekitar 66 Ringgit atau setara dengan 160 ribu Rupiah permalam. Fasilitasnya memang sangat jauh dari hotel kelas melati sekalipun di Indonesia, namun untuk urusan AC, TV, kamar mandi dengan fasilitas air panas dan dingin hotel ini bisa diandalkan apalagi di hotel ini kita bisa mengakses internet dengan fasilitas wifii yang disediakan secara cuma-cuma untuk tamunya.

Berpose di salah satu spot di Petaling Street

Berpose di salah satu sisi di China Town

Salah satu sisi di China Town Petaling Street

berpose dengan latar China Town

China Town Petaling Street saat malam

Berpose di salah satu sudut China Towm
Kasturi Walk, Pasar Seni dan Es Teler 77.
Namamya Kasturi Walk, letaknya tak jauh dari China Town hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit saja. sekilas tak berbeda jauh dengan China Town di Petaling Street. Selain lokasinya yang cukup bersih dan rapih di Kasturi Walk tidak terdapat penginapan di kanan kirinya, hanya toko dan restoran. Selain itu di Kasturi Walk para pedagang todak perlu repot-repot memasang dan membongkar kios dagangan mereka. Barang-barang yang dijual di tempat ini tak berbeda jauh dengan yang dijajakan di China Town. Menariknya di sini tedapat sebuah Central Market atau biasa disebut juga dengan pasar seni yang menjual barang-barang menarik teutama baju dan pernak pernik khas Malaysia. Di pasar seni ini juga terdapat beberapa toko yang menjual coklat dengan aneka rasa dan bentuk. Saya temasuk beruntung karna pada saat ke sana kebetulan sedang diselenggarakan pertunjukan Barongsai untuk memberkati toko-toko di dalam pasar, mumpung saat itu masih dalam euforia imlek. Di Kasturi Walk ini saya juga menemui produk franchise asal Indoensia, Es Teler 77. Lumayan, bisa mengobati rasa kangen akan masakan Indonesia yang punya cita rasa.

Kasturi Walk

Salah satu spot di Kasturi Walk

Kasturi Walk

Pertunjukan Barongsai di depan Central Market (Pasar Seni)

Pertunjukan Barongsai di depan Central Market (Pasar Seni)

Di depan Pasar Seni
LRT, masukkan Ringgit Malaysia dan nikmati perjalananmu.
Jika dihitung-hitung seumur hidup saya baru enam kali menaiki kereta. Dua kali saat di Indonesia (Jakarta – Bogor dan Bogor Jakarta) sisanya di Malaysia. Hal pertama yang saya bayangkan sebelum menaiki LRT di Malaysia adalah kereta super canggih dan itu terbukti. LRT sebenarnya merupakan kereta monorail yang jalurnya berada di bawah tanah. Saya begitu terpukau dengan sarana transportasi massal ini. Mulai dari kedatangan di stasiun, pembelian tiket sampai menunggu kereta datang semuanya dilakukan oleh mesin. Misalnya pada saat membeli tiket, kita tidak perlu mengantri di loket karena di statisum sudah tersedia mesin khusus untuk membeli tiket. Tinggal pilih tujuan anda dan mesin secara otomatis menghitung berapa harga tiketnya kemudian anda cukup memasukkan nominal Ringgit Malaysia dan tiket sudah ditangan. Harga tiket LRT ini tergantung dari tujuan anda memiliki beberapa jenis ada yang berbentuk lempengan koin plastik, lembaran kertas dan lembaran plastik. Tinggal masukkan / dekatkan tiket anda ke mesin sensor dan palang pintu akan terbuka secara otomatis segeralah menuju ke tempat menunggu LRT. Kita tak perlu menunggu lama-lama karena setiap beberapa menit selalu ada LRT yang singgah. Pintu LRT juga terbuka secara otomatis. Tak peduli apakah banyak penumpang atau tidak, yang jelas LRT ini akan kembali berjalan sesuai dengan jadwalnya. Mungkin di Indonesia layanan LRT ini hampir sama miripnya dengan Busway diluar macet dan desak-desakannya. Beberapa rute yang dilalui oleh LRT ini adalah Masjid Jameek, Bukit Bintang dan KLCC. Selai LRT, ada juga salah satu sarana transportasi jassal yang juga digunakan di negara ini. Yap, kerta monorail. Konsepnya sama persis dengan LRT, yang membedakan, jika LRT berjalan di bawah tanah, makan monorail ini berada beberapa meter dari permukaan tanah. Semua sistem transportasi massal ini sangat terintegrasi, artinya antara monorail dan LRT selalu terhubung, kita bisa mengganti moda transportasi dari LRT ke monorail atapun sebaliknya hanya dengan berpindah stasiun. Tak heran jika di Malaysia jarang sekali (bahkan tidak pernah) kita jumpai yang namanya kemacetan, semua sarana transportasi adalah transportasi massal (bus dan kereta) yang dibungkus dengan fasilitas stasiun otomatis yang benar-benar memanjakan siapapun yang ingin menggunakannya. Hmm… Konsep yang patut ditiru.

Membeli tiket di mesin

Naik eskalator menuju tempat menunggu LRT

Menunggu LRT

Salah satu LRT

Salah satu monorail yang terkoneksi dengan LRT

Suasana dalam LRT

Suasana di dalam LRT
KLCC, Tak ke sini, berarti belum pernahnke Malaysia.
Apakah yang menjadi kebanggaan dari Malaysia? Yup, icon menara kembarnya. Petronas Twin Tower ini merupakan salah satu simbol dari kemakmuran negeri Jiran ini. Kalau tidak salah, Petronas Twin Tower masih memegang rekor Menara Kembar Tertinggi di dunia yang sebelumnya dipegang oleh WTC yang ambruk 2002 lalu. Ingat ya, Menara Kembar tertinggi. Saya mencoba membaca beberapa artikel tentang menara kembar ini dan kalau tidak salah, pembangunan menara ini mulai dilakukan pad tahun 90 an oleh perusahaan arsitek asing (bukan dari hasil karya anak negeri). Penyelesaian kedua tower inipun tidak bersamaan (selisih setahun) tetapi saya tidak akan membicarakan mengenai sejarah pembangunan tower ini. Petronas Twin Tower ini berada di KLCC atau kepanjangan dari Kuala Lumpur City Center. Siapapun yang menemukan raksasa ini pasti akan langsung mengenali ciri khasnya. Di bawah bangunan ini terdapat sebuah pusat perbelanjaan yang dikenal dengan nama Suria Mall. Mall ini tidak berbeda jauh dengan mall-mall yang ada di Indonesia. Untuk menuju ke KLCC, anda dapat menggunakan LRT yang stasiunnya tepat berada di bawah Suria Mall. Saya sangat tercengang melihat bentuk dari Petronas Twin Tower ini. Teus terang, saya harus mendongakkan leher saya sampai sudt 90 derajad untuk bisa melihat ujing jari bangunan ini. Walaupun perancangnya bukan berasal dari Malaysia, namun arsitekturnya sangat ikonik dengan kultur asia. Apalagi jika melihatanya pada malam hari. Indahnya tak tehingga. Seumur-umur, saya baru melihat bangunan seindah ini. Saya membayangkan bagunan ini seperti dua gadis cantik yang berhiaskan permata berkilauan. Sungguh cantik. Oh iya, kita bisa menikmati wisata di gedung ini sampai pada lantai 42 (kalau tidak salah). Di tingkat tesebut terdapat sebuah jembatan penghubung dan pusat perbelanjaan selebihnya, gedung ini uga menjadi pusat perkantoran beberapa perusahaan dan salah satunya adalah si pemilik, Petronas. Sayang, saat saya ke sana, saya tidak sempat naik sampai ke lantai 42 karena harus membayar tiket 50 Ringgit Malaysa. Hikssss….. Selain Petronas Twin Tower, terdapat juga sebuah gedung yang juga merupakan ikon negara Malaysia yaitu KL Tower atau Menara Kuala Lumpur. Menara ini merupakan menara stasiun televisi milik negara Malaysia. Bentuknya sangat mudah dikenali dan letaknyapun tak jauh dari Twin Tower. Sama halnya dengan Petronas Twin Tower, menara ini juga sangat cantik di malam hari. Saya tidak tahu banyak tentang sejarah menara ini yang jelas, menara ini patut untuk dijadikan salah satu background foto kita. Hahahahahhahaha…. KLCC sebenarnya merupakan salah satu lokasi dimana terdapat pusat hiburan dan perbelanjaan. Selain Suria Mall di Twin Tower, anda juga bisa menemukan mall lainnya di daerah ini.

Berpose di salah satu sisi Suria Mall

Salah satu sisi Suria Mall

Salah satu sisi dalam Suria Mall

Salah satu tempat di Suria Mall

Salah satu spot di KLCC

Petronas Twin Tower

Salah satu spot di KLCC

Di salah satu halaman Petronas Twin Tower

Salah satu sudut KLCC saat malam

Salah satu sisi KLCC saat malam

Petronas Twin Tower saat malam

KL Tower saat malam
Malaysia, that’s realy trully asia.
Apa suku mayoritas di Kuala Lumpur? India, Melayu atau Cina? Saya tidak bisa membedakannya. Yang jelas, setiap kali melangkah, saya selalu menemukan orang India, Melayu dan Cina. Selama ini saya hanya mendengarkan slogan pariwisata Malaysia Trully Asia, dan memang benar bahwa Malaysia benar-benar asia sebenarnya. Di sini bisa dijumpai berbagai macam budaya diantaranya India, Melayu dan Cina. Tak heran jika Malaysia sendiri “kebingunan” untuk mengakui kekayaan budayanya (seperti batik). Bahasa umum yang digunakan adalaha bahasa Melayu dan Inggris sehingga kami tidak begitu kesulitan berkomunikasi.

Salah satu acara adat India

Berpose di salah satu kuil Hindu di Kuala Lumpur

Salah satu kesenian India

Berfoto bersama

Mencicipi manisan khas india

Bersama sang Pendeta

Berfoto bersama

Salah satu spot di kuil Hindu
Berbagai hal unik di Malaysia. Ada beberapa hal unik yang saya temukan di Kuala Lumpur, mau tau apa saja?
- Walaupun merupakan kota dunia, tetapi di Kuala Lumpur juga masih bisa dijumpai tuna wisma yang tidur di emperan toko dan taman-taman di sudut pasar. Jika saya bandingkan dengan Makassar yang hanya merupakan ibu kota propinsi biasa, jumlah gelandangan malah lebih banyak di Kuala Lumpur. Umumnya gelandangan yang ada di sini merupakan warga pendatang. Dari informasi yang saya dapat, ternyata gelandangan di daerah Kuala Lumpur menjadi tanggungan oleh negara. Mereka diberikan jatah makan 3 kali sehari. Ini baru namanya pemerintah yang bertanggung jawab. Lantas, mengapa gelandangan ini tidak dipulangkan kentempat asalanya? Selama mereka tidak mengganggu ketertiban, mereka tidak akan dideportasi. Wah, enak sekali rupanya menjadi gelandangan di Malaysia. *Naudzubillah…
- Orang-orang di Malaysia pada umumnya memiliki 2 pekerjaan. Maksudnya, pada siang hari mereka biasa bekerja kantorang misalnya menjadi bankir dan pada malam hari mereka mencari pekerjaan tambahan sebagai supir taksi. Itu informasi yang saya dapatkan setelah mewawancarai salah satu supir taksi yang saya tumpangi. “di Malaysia ini tidak ada orang miskin, yang ada hanyalah orang malas. Makanya banyak gelandangan karena meraka tak mau berusaha.” katanya. Nice…
- Salah satu teman saya sempat menanyakan masalah penyiksaan TKI di Malaysia ke salah satu warga Malaysia dan kurang lebih seperti ini jawabannya. “Saya tak tahu mengapa penduduk indonesia sangat ingin ke Malaysia menjadi pembantu? Kalau disuruh pilih, saya lebih memilih menjadi penyapu jalanan yang bekerja langsung dengan pemerintah karena semuanya dijamin oleh pemerintah. Kalau bekerja sama orang, belum tetntu kesejahteraan kita terjamin.” Ohhh… Begitu ya??
- Kalau di Indonesia kita mengenal Kota Kalong karna banyak kelelawarnya, maka di Kuala Lumpur saya menyebutnya Crown City (Kota Gagak) karna banyak burung gagaknya. Hahahahahahaha….

Burung gagak berterbangan
- Saya bisa menjamin taxi di Makassar 90 persen masih lebih bagus dari taxi di Kuala Lumpur, tidak percaya? Silahkan saja lihat.
- Lagu-lagu Indonesia banyak yang diputar di sini. Khususnya lagu dangdut yang diaransemen ulang. *Spechless

Nongkrong dulu

Nongkrong sambil makan sate

unforgetable
Saya ingin kembali ke kota ini lagi.